Jakarta – Ferari.co | PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) resmi memulai pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium terintegrasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Groundbreaking proyek strategis nasional ini dilaksanakan pada (6/2/2026) sebagai langkah konkret memperkuat hilirisasi aluminium nasional dan mengurangi ketergantungan impor.
Proyek hilirisasi aluminium INALUM ini merupakan bagian dari strategi Grup MIND ID dalam mendukung Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Selain itu, pembangunan smelter aluminium ini juga sejalan dengan kebijakan nasional yang menempatkan hilirisasi mineral sebagai pilar utama penguatan industri dan kemandirian ekonomi Indonesia.
Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita, menegaskan bahwa hilirisasi bauksit menjadi aluminium merupakan agenda strategis nasional. Menurutnya, proyek ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri.
“Hilirisasi bauksit menjadi aluminium merupakan agenda strategis nasional untuk memperkuat kemandirian sektor industri Indonesia. Percepatan pembangunan smelter dan refinery menjadi upaya untuk menekan ketergantungan impor, meningkatkan daya saing, serta membangun rantai pasok aluminium yang terintegrasi dari hulu hingga hilir,” ujar Melati, Selasa (10/2/2026).
Fasilitas pengolahan aluminium di Mempawah ini mencakup pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 dan Smelter Aluminium. SGAR Fase 2 memiliki kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun dan dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia, anak usaha INALUM dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM). Fasilitas ini dibangun berdampingan dengan SGAR Fase 1 yang juga memiliki kapasitas 1 juta ton per tahun.
Dengan beroperasinya SGAR Fase 2, total kapasitas produksi alumina domestik akan meningkat menjadi 2 juta ton per tahun. Selain itu, fasilitas ini akan menyerap sekitar 6 juta ton bijih bauksit per tahun yang dipasok dari wilayah tambang ANTAM di Kabupaten Mempawah dan Landak, Kalimantan Barat. Sementara itu, pasokan listrik untuk smelter aluminium akan didukung oleh PT Bukit Asam Tbk.
Smelter aluminium Mempawah dirancang memiliki kapasitas produksi sebesar 600.000 ton aluminium per tahun. Seluruh produksi tersebut akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan aluminium dalam negeri. Jika digabungkan dengan produksi smelter INALUM di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, total kapasitas produksi aluminium nasional INALUM akan mencapai sekitar 900.000 ton per tahun.
Investasi pembangunan fasilitas aluminium terpadu ini mencapai Rp104,55 triliun atau setara USD 6,23 miliar. Proyek ini menjadi bagian penting dari Program Strategis Nasional yang bertujuan memperkuat ketahanan industri aluminium nasional serta meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia.
Selain memperkuat industri, proyek hilirisasi aluminium INALUM juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi signifikan. Fasilitas ini berpotensi meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp71,8 triliun per tahun serta meningkatkan penerimaan negara sekitar Rp6,6 triliun per tahun. Di sisi lain, proyek ini juga diperkirakan mampu menyerap sekitar 65.000 tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Groundbreaking smelter aluminium di Mempawah ini menegaskan komitmen INALUM dalam mempercepat hilirisasi mineral nasional. Melalui pembangunan ekosistem aluminium terintegrasi dari bauksit hingga aluminium, INALUM optimistis Indonesia dapat mencapai swasembada aluminium pada tahun 2030 serta memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam rantai pasok aluminium global. (RGS)




















