Batu Bara – Ferari.co | Dinamika politik menuju Pilkada 2029 mulai menarik perhatian publik. Pengamat politik Yudi Pratama, S.H., menilai peta kekuatan politik di Kabupaten Batu Bara menunjukkan pola yang semakin mengerucut, khususnya dengan posisi kepala daerah dan wakil kepala daerah yang berasal dari satu partai yang sama, yakni Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra).
Menurut Yudi, fenomena “satu partai” ini bukan sekadar kebetulan administratif. Sebaliknya, kondisi tersebut menjadi instrumen vital yang dapat menentukan arah koalisi serta peta persaingan politik di Pilkada 2029.
“Ada dinamika politik pilkada yang mulai menunjukkan pola menarik. Ketika posisi Bupati dan Wakil Bupati berasal dari satu partai yang sama, ini akan sangat memengaruhi konfigurasi politik ke depan,” ujar Yudi kepada Ferari.co, Jumat (20/2/2026).
Ia menambahkan, dominasi satu partai berpotensi memicu kepentingan politik, baik di internal partai lain maupun di dalam lingkaran kader partai pengusung itu sendiri. Menurutnya, ketika posisi Bupati dan Wakil Bupati “dikunci” oleh satu partai, ruang gerak figur potensial dari partai lain menjadi terbatas.
Tiga Skema Politik Bahar–Syafrizal
Lebih lanjut, Yudi memaparkan tiga skema politik yang dinilai dapat mengakomodasi ambisi politik Bahar dan Syafrizal pada kontestasi Pilkada Batu Bara 2029.
Pertama, Bahar tetap maju di Pilkada Batu Bara, sementara Syafrizal diarahkan bertarung di Pileg DPRD Provinsi atau Pileg DPR RI.
Kedua, Syafrizal yang maju di Pilkada Batu Bara, sedangkan Bahar memilih bertarung di Pileg DPRD Provinsi atau DPR RI.
Ketiga, Bahar dan Syafrizal sama-sama maju di Pilkada 2029, namun tidak lagi bersanding sebagai pasangan, melainkan menjadi kompetitor dalam kontestasi politik.
Selain itu, terdapat opsi alternatif apabila duet Bahar–Syafrizal tetap ingin dilanjutkan pada Pilkada 2029. Menurut Yudi, skema tersebut hanya mungkin terjadi jika salah satu di antara keduanya keluar dari Gerindra dan bergabung dengan partai lain.
Ujian Kedewasaan Politik Daerah
Yudi Pratama menegaskan, Pilkada 2029 akan menjadi ujian kedewasaan politik di daerah. Ia mempertanyakan apakah keberlanjutan pasangan satu partai akan membawa stabilitas pembangunan atau justru menciptakan dominasi yang melemahkan kompetisi sehat.
“Rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi harus jeli melihat apakah keharmonisan satu partai ini benar-benar demi kepentingan publik atau sekadar strategi melanggengkan kekuasaan,” tutupnya. (RGS)
















