Batu Bara, Lima Puluh – Ferari.co | Ibu Kota Kabupaten Batu Bara, Lima Puluh Kota, dinilai masih tertinggal dari sisi pembangunan. Infrastruktur rusak, penerangan minim, dan UMKM Batu Bara belum berkembang optimal, yang berlokasi di Kelurahan Lima Puluh Kota, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait arah kebijakan dan efektivitas kinerja pemerintah daerah.
Di berbagai titik, jalan rusak masih menjadi pemandangan sehari-hari. Selain itu, minimnya penerangan jalan umum membuat sejumlah kawasan gelap pada malam hari. Situasi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga mencerminkan lemahnya perhatian terhadap infrastruktur dasar.
Ironisnya, persoalan ini terjadi di pusat pemerintahan Kabupaten Batu Bara. Kantor bupati serta sejumlah kantor Organisasi Perangkat Daerah (OPD) beroperasi di Lima Puluh Kota. Namun, keberadaan pusat birokrasi tersebut belum mampu menghadirkan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Alih-alih tumbuh sebagai pusat ekonomi, aktivitas usaha justru lesu. Sektor UMKM tidak bergerak maksimal dan kawasan ibu kota kabupaten mulai sepi sejak pukul 22.00 WIB. Kondisi ini mengindikasikan lemahnya perencanaan pembangunan yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan.
Ketimpangan pembangunan pun semakin terlihat. Infrastruktur dinilai tidak merata, sementara anggaran daerah terus digelontorkan setiap tahun. Fakta ini memicu kritik terhadap prioritas dan pengawasan penggunaan anggaran.
Menanggapi hal tersebut, M. Nurizat Hutabarat, SH, menyampaikan kritik terbuka terhadap kinerja para pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Batu Bara.
“Pertanyaannya sederhana, apa sebenarnya fokus kerja para pejabat di Kabupaten Batu Bara dengan anggaran dan gaji yang tidak kecil, sementara ibu kota kabupaten masih tertinggal dan persoalan infrastruktur dasar belum terselesaikan?” tegasnya, Kamis (1/1/2026).
Menurutnya, ketertinggalan ibu kota kabupaten tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Pemerintah daerah dinilai perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program pembangunan yang selama ini berjalan.
Tanpa langkah konkret dan keberpihakan yang jelas, Lima Puluh Kota dikhawatirkan akan terus tertinggal. Padahal, sebagai ibu kota Kabupaten Batu Bara, wilayah ini seharusnya menjadi wajah kemajuan daerah, bukan justru cermin kegagalan pembangunan. (RGS)


















