Medan – Ferari.co | Buku berjudul “Kepemimpinan di Lapas Mendidik Masa Depan Warga Binaan” karya Syaiful Syafri resmi diserahkan kepada pimpinan UMSU Press untuk segera diterbitkan. Penyerahan dilakukan di kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Jalan Mukhtar Basri, Medan, pada Sabtu (25/04/2026).
Penulis yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara periode 2010–2014 itu menjelaskan, buku setebal 158 halaman ini mengulas kepemimpinan Soetopo Berutu selama bertugas di rumah tahanan (Rutan) dan lembaga pemasyarakatan (Lapas). Pembahasan dibagi ke dalam lima bagian utama, dengan fokus pada implementasi kebijakan pemasyarakatan serta enam dari 15 rencana aksi strategis.
Selain itu, buku ini juga menyoroti kebijakan dan langkah yang sejalan dengan arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Agus Andrianto. Beberapa program unggulan yang diangkat meliputi ketahanan pangan, pelatihan UMKM, hingga penyediaan dapur umum sebagai bagian dari layanan dasar bagi warga binaan.
Syaiful menambahkan, buku tersebut turut mendokumentasikan kunjungan Menteri ke Lapas Kelas I Tanjung Gusta Medan, termasuk momen interaksi langsung dengan warga binaan. Bahkan, kegiatan makan bersama antara menteri dan warga binaan menjadi salah satu catatan penting dalam buku tersebut.
Proses penulisan buku ini terbilang cepat. Syaiful menyelesaikannya hanya dalam waktu dua minggu setelah terlebih dahulu meminta izin kepada Soetopo Berutu saat cuti pada 15 April 2026. Ia juga melengkapi data dengan informasi keluarga serta perjalanan karier tokoh utama.
Penyerahan naskah dilakukan kepada pimpinan UMSU Pres, Muhammad Arifin, yang juga bertindak sebagai editor utama. Proses ini turut didampingi oleh editor Toto Widyanto, Mahyuddin, serta tim data yang dipimpin Titik Anggriyani. Buku ini akan diterbitkan dengan nomor ISBN 976-634-236-470-3 dan dilengkapi Katalog Dalam Terbitan (KDT) dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Dalam keterangannya, Muhammad Arifin menyampaikan apresiasi tinggi terhadap karya tersebut. Menurutnya, buku ini menghadirkan perspektif baru tentang kepemimpinan di lingkungan Lapas yang berfokus pada pembinaan dan pendidikan masa depan warga binaan.
“Topik ini masih sangat jarang diangkat. Padahal, buku seperti ini penting sebagai referensi bagi pejabat dan praktisi hukum di bidang kemasyarakatan,” ujarnya.
Ia juga menilai buku ini memiliki struktur yang lengkap, mulai dari bagian awal, isi, hingga penutup. Selain itu, keberadaan data wawancara serta dokumentasi foto memperkuat nilai buku sebagai referensi biografi kepemimpinan.
Ke depan, Arifin berharap semakin banyak karya serupa yang mengangkat tema kepemimpinan di Lapas. Dengan demikian, sistem pembinaan di lembaga pemasyarakatan dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. (RGS)


















