Batu Bara – Ferari.co | Forum Komunikasi Antar Etnis (FKAE) Kabupaten Batu Bara mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Batu Bara agar pembangunan fasilitas seni, budaya, olahraga, dan ruang publik dilakukan secara terintegrasi dalam satu kawasan. Gagasan tersebut diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.
Usulan pembangunan kawasan terpadu seni, budaya, dan olahraga itu menjadi bagian dari landasan pemikiran FKAE dalam menciptakan ruang bersama yang dapat dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang suku dan etnis.
Ketua FKAE Kabupaten Batu Bara, Muhammad Rafik, menilai daerah ini memiliki kekayaan suku, etnis, adat istiadat, seni, dan budaya yang merupakan aset berharga. Oleh karena itu, menurutnya, keberagaman tersebut perlu dijaga, dilestarikan, serta dikembangkan melalui penyediaan sarana dan prasarana yang memadai.
FKAE juga menyoroti meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas publik yang representatif. Di sisi lain, pelaksanaan Pekan Seni Budaya Daerah (PSBD) yang digelar setiap tahun masih menghadapi keterbatasan infrastruktur pendukung.
Dalam dokumen landasan pemikiran FKAE disebutkan bahwa kawasan terpadu tersebut dirancang untuk mengintegrasikan berbagai fungsi dalam satu lokasi. Konsep ini dinilai mampu memberikan manfaat yang lebih luas dibandingkan pembangunan fasilitas secara terpisah.
“FKAE mengusulkan pembangunan kawasan terpadu yang mengintegrasikan kegiatan seni, budaya, olahraga, dan ruang terbuka hijau. Penataan yang terintegrasi akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” demikian pokok pemikiran FKAE.
FKAE mengusulkan agar kawasan tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti Rumah-Rumah Etnis, Gedung Budaya, fasilitas olahraga, Ruang Terbuka Hijau (RTH), pusat UMKM, ruang kegiatan masyarakat, serta fasilitas pendukung lainnya.
Menurut FKAE, pembangunan kawasan ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Lebih dari itu, kawasan tersebut diharapkan menjadi pusat pembinaan seni dan budaya, pendidikan, olahraga, ekonomi kreatif, hingga pengembangan sektor pariwisata Kabupaten Batu Bara.
Selain menjadi lokasi tetap penyelenggaraan PSBD, keberadaan Rumah-Rumah Etnis juga diproyeksikan menjadi simbol persatuan dalam keberagaman sekaligus destinasi wisata budaya yang mampu menarik kunjungan masyarakat maupun wisatawan.
Muhammad Rafik berharap Pemerintah Kabupaten Batu Bara dapat menjadikan gagasan tersebut sebagai bagian dari pembangunan jangka panjang daerah.
“Yang kita dorong adalah bagaimana keberagaman etnis di Batu Bara dapat diwujudkan dalam sebuah kawasan yang tertata, terintegrasi, dan bisa dimanfaatkan seluruh masyarakat. Seni, budaya, olahraga, UMKM, dan ruang publik harus saling bersinergi,” ujar Muhammad Rafik.
FKAE menilai kehadiran kawasan terpadu seni, budaya, dan olahraga akan memperkuat persatuan, toleransi, dan kerukunan antar-etnis. Selain itu, kawasan ini diyakini mampu mendukung pertumbuhan pariwisata, memperluas ruang bagi pelaku ekonomi kreatif, serta meningkatkan pemberdayaan UMKM lokal.
Melalui konsep tersebut, FKAE berharap Kabupaten Batu Bara memiliki ikon baru yang merepresentasikan semangat Bhinneka Tunggal Ika, sekaligus menjadi ruang publik yang inklusif bagi seluruh masyarakat. (RGS)


















