Jakarta – Ferari.co | Indonesia kembali diingatkan tentang ancaman besar gempa dan tsunami yang mengintai. Sebagai negara yang berada di jalur Cincin Api Pasifik, Indonesia memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap aktivitas seismik. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2024 bahkan menunjukkan peningkatan signifikan pada risiko gempa di berbagai wilayah dibandingkan peta 2017.
Risiko Gempa di Indonesia Meningkat
Anggota AIPI sekaligus Guru Besar ITB, Iswandi Imran, menilai perubahan pada peta terbaru menunjukkan kontur yang lebih rapat. Hal ini menandakan adanya kenaikan potensi bahaya gempa di sejumlah daerah.
“Jika dibandingkan dengan peta tahun 2017, peta 2024 memperlihatkan kontur yang jauh lebih rapat. Itu mengindikasikan adanya peningkatan bahaya gempa di beberapa wilayah Indonesia,” jelasnya dalam sosialisasi Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Terkini, Selasa (9/12/2025).
Salah satu temuan penting adalah zona megathrust di Jawa yang berpotensi menghasilkan gempa dengan magnitudo maksimum 9,1. Sementara beberapa zona lain seperti Enggano dan Mentawai-Pagai memiliki potensi gempa hingga magnitudo 8,9.
Daftar 14 Zona Megathrust Indonesia (Peta 2024). Berikut 14 zona megathrust yang tercatat dalam peta terbaru:
• Aceh–Andaman: M 9,2
• Nias–Simelue: M 8,7
• Batu: M 7,8
• Mentawai–Siberut: M 8,9
• Mentawai–Pagai: M 8,9
• Enggano: M 8,9
• Jawa: M 9,1
• Jawa Barat: M 8,9
• Jawa Timur: M 8,9
• Sumba: M 8,9
• Sulawesi Utara: M 8,5
• Palung Cotobato: M 8,3
• Filipina Selatan: M 8,2
• Filipina Tengah: M 8,1
Dua Zona Megathrust Tinggal Menunggu Waktu
BMKG sebelumnya mengingatkan bahwa dua zona megathrust, yaitu Selat Sunda dan Mentawai–Siberut, telah lama tidak melepaskan energi. Kondisi ini disebut seismic gap dan menjadi indikator bahwa potensi gempa besar bisa terjadi sewaktu-waktu.
Contohnya, gempa M5,2 yang mengguncang Nias Barat pada 7 Mei 2025 disebut berhubungan dengan aktivitas di Megathrust Mentawai–Siberut. Gempa tersebut merupakan jenis gempa dangkal akibat subduksi Lempeng Indo-Australia.
Ancaman Megathrust untuk Jawa Barat
BRIN menegaskan perlunya kewaspadaan khusus pada megathrust yang membentang di selatan Jawa Barat hingga Selat Sunda. Peneliti BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, menjelaskan bahwa energi yang terkunci di zona subduksi tersebut terus meningkat dan berpotensi memicu gempa besar hingga magnitudo 8,7.
Dampaknya tidak hanya berupa guncangan kuat, namun juga tsunami besar. Jika megathrust di kawasan Pangandaran pecah, ketinggian tsunami bisa mencapai 20 meter dan menjalar ke Banten, Lampung, hingga Jakarta. Banten: tsunami diperkirakan 4–8 meter, Lampung: seluruh pesisir yang menghadap Selat Sunda terancam. Jakarta: tsunami setinggi 1–1,8 meter diprediksi tiba dalam 2,5 jam
“Di selatan Jawa, tsunami bisa sampai dalam 40 menit, bahkan di Lebak hanya 18 menit. Namun di Jakarta Utara, gelombang tiba sekitar 2,5 jam setelah gempa,” ujar Rahma.
Mitigasi Jadi Kunci: BMKG Intensifkan Pengawasan
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memastikan bahwa pembahasan megathrust dilakukan bukan untuk menakutkan publik, tetapi untuk mendorong kesiapsiagaan. BMKG menjalankan berbagai langkah mitigasi, antara lain: Pemasangan sensor InaTEWS yang diarahkan langsung ke zona megathrust. Edukasi masyarakat dan pemerintah daerah, termasuk penyusunan jalur evakuasi dan pembangunan shelter tsunami.
Pengecekan rutin sirine peringatan dini yang dikelola pemda. Penyebaran informasi peringatan dini secara terus-menerus.
Dwikorita menegaskan bahwa isu megathrust sudah diketahui sejak lama, namun mitigasi harus terus diperkuat agar masyarakat siap menghadapi potensi gempa besar. (RGS)




















