Batubara – Ferari.co | Konferensi pers ungkap kasus narkotika yang digelar Polres Batubara, Kamis (11/12/2025) menuai kritik tajam. Alih-alih menyampaikan laporan kerja secara lengkap, Polres justru hanya memaparkan tangkapan awal Desember 2025. Padahal, publik menunggu data capaian penindakan dari September, Oktober, hingga November 2025 yang tidak disinggung sama sekali.
Langkah tersebut diduga mengaburkan transparansi kinerja kepolisian, apalagi kasus narkotika di Batubara selama ini dikenal masif dan kerap dikeluhkan masyarakat.
Dalam acara yang dihadiri Kapolres Batubara AKBP Doly Nelson HH. Nainggolan SH MH, jajaran Sat Narkoba, dan insan pers, Polres hanya fokus pada pengungkapan kasus 10 Desember 2025. Tidak ada penjelasan mengenai capaian penindakan tiga bulan sebelumnya, sebuah kelalaian yang dinilai mencederai asas keterbukaan informasi publik.
Padahal konferensi pers adalah momentum strategis untuk menunjukkan keseriusan memerangi narkotika secara menyeluruh, bukan sekadar memamerkan satu keberhasilan.
Tiga tersangka AR (44), MAS (32), dan MY (40) memang ditangkap dengan total barang bukti sabu lebih dari 1 kilogram, dilengkapi timbangan digital, airsoft gun, serta puluhan paket siap edar.
Pengungkapan ini jelas patut diapresiasi, namun keberhasilan tersebut tidak cukup untuk menutupi fakta bahwa laporan kinerja triwulan tidak dipaparkan sama sekali. Tanpa data September–November, publik tidak dapat menilai apakah kinerja Polres Batubara konsisten atau justru stagnan.
Konferensi pers yang tidak menyertakan laporan lengkap hanya akan menimbulkan kesan seremonial dan formalitas belaka. Penyampaian data setengah-setengah berpotensi menimbulkan kecurigaan diduga ada yang tidak ingin ditampilkan.
Dalam isu sebesar narkotika, transparansi adalah kewajiban, bukan pilihan. Polisi dituntut tidak hanya menunjukkan tangkapan, tetapi juga pola penindakan, grafik peningkatan atau penurunan kasus, serta capaian target yang telah ditetapkan.
Kapolres Batubara menegaskan komitmen jajarannya menghabisi jaringan peredaran narkotika. Namun komitmen tidak akan berarti tanpa laporan lengkap yang menunjukkan kontinuitas kerja.
Masyarakat Batubara berharap Polres tidak lagi menyajikan laporan sepotong-sepotong. Keberhasilan satu hari tidak bisa dijadikan indikator tunggal keberhasilan institusi. Laporan kinerja triwulan harusnya disampaikan agar publik memiliki gambaran utuh tentang situasi narkotika di daerah tersebut.(RGS)
















