Batu Bara — Ferari.co | Kondisi Kelurahan Lima Puluh Kota, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara kembali menjadi sorotan publik. Wilayah yang merupakan ibu kota Kabupaten Batu Bara itu dinilai masih menghadapi berbagai persoalan pembangunan yang belum terselesaikan hingga kini.
Meskipun Kelurahan Lima Puluh Kota masih jauh dari layak, wilayah tersebut merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Batu Bara. Pasalnya, di kawasan ini berdiri berbagai kantor penting seperti kantor bupati, sejumlah kantor dinas pemerintahan, hingga Polres Batu Bara.
Forum Aktivis Gen Z (FORZA) menilai pembangunan di Lima Puluh Kota belum mencerminkan statusnya sebagai pusat pemerintahan daerah. Hingga saat ini, sejumlah infrastruktur dasar dinilai masih tertinggal dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Salah satu persoalan yang disoroti adalah kondisi jalan rusak yang telah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan yang maksimal. Selain itu, masih ada akses jalan di wilayah tersebut juga dinilai minim penerangan sehingga membuat masyarakat merasa kurang nyaman saat beraktivitas pada malam hari.
Sejumlah warga di Kelurahan Lima Puluh Kota mengaku kondisi infrastruktur di wilayah tersebut masih jauh dari kata layak. Mereka menyoroti banyaknya jalan berlubang dan rusak parah yang sudah bertahun-tahun belum juga diperbaiki oleh pemerintah daerah.
“Kami setiap hari melintasi jalan yang rusaknya sudah cukup lama. Sering membahayakan pengendara, apalagi saat malam hari,” ujar salah seorang warga.
Selain persoalan jalan rusak, masyarakat juga mengeluhkan minimnya penerangan jalan di beberapa titik. Banyak ruas jalan yang masih gelap pada malam hari karena tidak adanya lampu penerangan, sehingga dinilai rawan terhadap kecelakaan maupun tindak kriminalitas.
Warga juga menilai kondisi ekonomi masyarakat belum banyak mengalami perubahan. Mereka menyebut angka pengangguran masih cukup tinggi dan peluang kerja dinilai belum berkembang secara maksimal di wilayah tersebut.
“Sebagai ibu kota kabupaten, kami berharap Lima Puluh Kota bisa lebih diperhatikan. Jalan diperbaiki, lampu jalan dipasang, dan masyarakat juga butuh peluang kerja yang lebih baik,” tambah warga tersebut.
Menurut FORZA, kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan di ibu kota Kabupaten Batu Bara belum berjalan secara merata dan optimal.
“Sebagai ibu kota kabupaten, Lima Puluh Kota seharusnya menjadi wajah pembangunan Batu Bara. Namun yang terlihat justru masih banyak infrastruktur yang belum diperbaiki,” ujar perwakilan FORZA.
Selain persoalan infrastruktur, FORZA juga menyoroti belum terealisasinya pembangunan pasar induk di wilayah tersebut. Padahal, keberadaan pasar induk dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat serta memperkuat aktivitas perdagangan lokal.
Di sisi lain, FORZA menilai pemberdayaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Lima Puluh Kota juga masih minim perhatian. Program pembinaan bagi pelaku usaha kecil dinilai perlu diperkuat agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
Tidak hanya itu, FORZA juga menilai pemerintah daerah perlu meningkatkan pembinaan terhadap generasi muda di wilayah tersebut. Menurut mereka, penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci penting dalam pembangunan daerah.
FORZA menilai berbagai persoalan tersebut tidak terlepas dari sistem tata kelola kepemimpinan daerah yang perlu diperbaiki agar pembangunan dapat berjalan lebih efektif dan merata.
“Bupati Batu Bara harus memikirkan pembangunan yang merata, pemberdayaan UMKM lokal, serta peningkatan sumber daya manusia masyarakat. Pembangunan daerah tidak boleh hanya sebatas kegiatan seremonial,” tegas FORZA kepada Ferari.co, Sabtu (14/3/2026).
Melalui pernyataan tersebut, FORZA berharap pemerintah Kabupaten Batu Bara dapat lebih serius memperhatikan pembangunan di Lima Puluh Kota sebagai ibu kota kabupaten. Dengan demikian, wilayah tersebut dapat benar-benar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah. (RGS)















