Batu Bara – Ferari.co | Malam takbiran yang seharusnya menjadi milik rakyat, ditahun 2026 ini justru terasa sunyi dari ruang-ruang kebersamaan di Kabupaten Batu Bara. Tidak ada pawai takbir, tidak ada gema kolektif di jalanan, yang ada hanya agenda seremonial bernama open house.
Pertanyaannya sederhana: untuk siapa sebenarnya perayaan itu digelar?
Di banyak daerah seperti Medan dan Padang, takbiran tetap hidup sebagai tradisi publik. Jalanan dipenuhi gema takbir, masyarakat turun langsung, dan pemerintah hadir sebagai fasilitator kebersamaan.
Namun di Batu Bara, pendekatan yang dipilih justru berbeda. Perayaan dipusatkan dalam ruang yang lebih terbatas, lebih formal, dan terkesan eksklusif. Open house memang penting sebagai ajang silaturahmi, tetapi menggantikannya sebagai satu-satunya wajah perayaan malam takbiran, jelas menyisakan ruang kosong.
Ruang Kosong Itulah Yang Kini Dirasakan Masyarakat.
Forum Aktivis Gen Z, FORZA turut menyoroti kondisi ini. Mereka menilai hilangnya takbiran bersama bukan sekadar absennya kegiatan, tetapi juga mencerminkan arah kebijakan yang mulai menjauh dari partisipasi publik.
“Takbiran itu milik rakyat, bukan milik ruang terbatas. Ketika perayaan hanya difokuskan pada open house, ada kesan pemerintah kehilangan sentuhan dengan masyarakat,” tegas perwakilan FORZA, Senin (23/3/2026).
Takbiran bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah simbol kehadiran pemerintah di tengah rakyat, bukan di balik pagar rumah dinas. Ketika tradisi ini hilang dari ruang publik, yang muncul bukan hanya kesunyian, tetapi juga jarak.
Jarak Atara Pemimpin dan Yang Dipimpin.
Lebih jauh, FORZA menilai bahwa perayaan keagamaan seharusnya tidak direduksi menjadi sekadar kegiatan seremonial. Menurut mereka, momen malam takbiran justru menjadi ruang penting untuk memperkuat kebersamaan lintas lapisan masyarakat.
“Ini bukan hanya soal ada atau tidaknya acara, tapi soal keberpihakan. Apakah pemerintah benar-benar hadir di tengah rakyat, atau cukup dengan simbol-simbol formal,” lanjutnya.
Jika takbiran adalah suara kemenangan, maka di Batu Bara, suara itu kini terdengar pelan bahkan nyaris tak terdengar. Dan publik tentu berhak bertanya: ini soal pilihan kebijakan, atau tanda arah kepemimpinan yang mulai menjauh dari rakyat?
Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi yang dilakukan oleh Ferari.co kepada pihak Setdakab Batu Bara, khususnya Bagian Kesra, belum mendapatkan tanggapan resmi. Pesan konfirmasi yang telah dikirim melalui WhatsApp belum direspons, sehingga belum ada penjelasan dari pemerintah daerah terkait alasan ditiadakannya pawai takbiran serta kebijakan yang hanya berfokus pada pelaksanaan open house.
Kondisi ini semakin memunculkan tanda tanya di tengah publik terkait arah kebijakan perayaan keagamaan di Kabupaten Batu Bara. (RGS)















