Batu Bara – Ferari.co | Peringatan Nuzulul Quran dan pawai takbir keliling pada Ramadhan 1447 H di Kabupaten Batu Bara dipastikan tidak masuk dalam agenda resmi pemerintah daerah. Absennya dua kegiatan sakral ini langsung memicu sorotan publik.
Nyatanya, Nuzulul Quran dan takbir keliling menjadi bagian sangat penting dari syiar Islam sekaligus ruang kebersamaan masyarakat. Namun, pada tahun ini, kedua momentum tersebut justru tidak digelar sebagaimana tradisi sebelumnya.
Sebagai perbandingan, sejumlah pemerintah daerah di berbagai wilayah tetap menggelar peringatan Nuzulul Quran dan pawai takbir keliling pada Ramadhan 1447 H. Di Kabupaten Asahan, misalnya, pemerintah daerah masih melaksanakan takbir keliling sebagai bagian dari syiar Islam dan kebersamaan masyarakat.
Hal serupa juga terlihat di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, yang tetap menghidupkan tradisi keagamaan tersebut. Perbandingan ini mempertegas bahwa di tengah daerah lain yang tetap menjaga momentum sakral Ramadhan, kebijakan di Kabupaten Batu Bara justru memunculkan tanda tanya di kalangan publik.
Hal ini dinilai bukan sekadar kelalaian administratif. Melainkan adanya indikasi pergeseran prioritas, di mana kegiatan keagamaan yang menyentuh langsung masyarakat justru tidak menjadi fokus.
Di sisi lain, publik juga menyoroti penggunaan anggaran daerah yang dinilai masih mengakomodasi kegiatan seremonial. Kondisi ini memunculkan pertanyaan terkait arah kebijakan pemerintah daerah dalam menentukan skala prioritas.
Kritik juga mengarah pada peran tokoh agama dan adat di Batu Bara. Di daerah yang dikenal menjunjung tinggi nilai religius dan adat istiadat Melayu, absennya suara kritis dari para tokoh dinilai menambah panjang daftar persoalan.
Menanggapi hal ini, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) menyampaikan bahwa tidak ada agenda khusus untuk peringatan Nuzulul Quran tahun ini.
“Agenda resmi Nuzulul Quran tidak ada. Namun, materi Nuzulul Quran tetap dimasukkan dalam ceramah ustazd pada kegiatan Safari Ramadhan,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Pernyataan tersebut memunculkan respons lanjutan. Sejumlah masyarakat menilai, memasukkan materi Nuzulul Quran dalam ceramah tidak dapat menggantikan makna peringatan itu sendiri sebagai momentum sakral umat Islam.
Ketiadaan takbir keliling juga dinilai mempersempit ruang ekspresi keagamaan di tengah masyarakat. Tradisi yang selama ini menjadi simbol syiar dan kebersamaan kini tidak lagi terlihat di ruang publik.
Forum Aktivis Gen Z (FORZA) turut memberikan kritik. Mereka menilai ada ketimpangan dalam penentuan prioritas kebijakan daerah.
“Kegiatan sakral umat tidak digelar, sementara anggaran untuk kegiatan yang dinilai kurang berdampak tetap berjalan. Ini menjadi catatan serius bagi pemerintah daerah,” tegas perwakilan FORZA, Jumat (27/3/2026).
Mengenai ini, arah kepemimpinan Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian, bersama Wakil Bupati Syafrizal, mulai dipertanyakan. Tidak digelarnya Nuzulul Quran dan takbir keliling dinilai mencerminkan pergeseran prioritas, di mana momentum keagamaan tidak lagi menjadi fokus utama dalam kebijakan daerah.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada penjelasan lanjutan dari Pemerintah Kabupaten Batu Bara terkait tidak digelarnya pawai takbir keliling secara resmi.
Situasi ini mendorong publik agar pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh. Transparansi anggaran dan keberpihakan terhadap kegiatan yang menyentuh nilai keagamaan dinilai menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. (RGS)















