Batu Bara – Ferari.co | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Perum Jasa Tirta I (PJT I) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) guna meningkatkan ketinggian permukaan air Danau Toba.
Langkah ini dilakukan saat elevasi muka air Danau Toba berada pada level 903,00 meter di atas permukaan laut (mdpl). Operasi tersebut dinilai strategis untuk menjaga cadangan air menjelang musim kemarau 2026.
Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG, Edison, mengatakan pelaksanaan OMC didasarkan pada prediksi musim yang menunjukkan kondisi transisi dari musim hujan menuju kemarau pada April 2026.
Menurutnya, kondisi atmosfer saat ini sangat mendukung proses operasi. Tingkat kelembapan udara yang berada di kisaran 70 hingga 100 persen dinilai ideal untuk memaksimalkan proses modifikasi cuaca.
“Operasi ini menjadi langkah preventif untuk mengoptimalkan potensi curah hujan dan menjaga cadangan air,” ujarnya melalui Humas INALUM, Minggu (12/4/2026).
Selain itu, Edison menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca tidak lagi hanya berfokus pada penanganan bencana hidrometeorologi. Kini, BMKG mulai mengarahkan pemanfaatan OMC untuk mendukung ketahanan pangan, energi, dan sumber daya air secara berkelanjutan.
Operasi tersebut direncanakan berlangsung selama 25 hari dengan pengawasan tim ahli yang terdiri dari meteorolog, hidrolog, dan tenaga lingkungan. Selama pelaksanaan, evaluasi akan dilakukan secara berkala melalui analisis cuaca dari pos meteorologi terdekat.
Sementara itu, perwakilan PJT I, Gede Santika, menyampaikan bahwa target utama operasi ini adalah meningkatkan elevasi muka air Danau Toba sebagai sumber daya strategis nasional.
Dari sisi teknis, staf BMKG Fikri menjelaskan bahwa operasi dilakukan menggunakan bahan semai higroskopis seperti natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO).
Kedua bahan tersebut berfungsi mempercepat pembentukan hujan sekaligus mengarahkan pertumbuhan awan ke wilayah tangkapan air di sekitar Danau Toba.
Ia menambahkan, berdasarkan pengalaman operasi sebelumnya, metode ini mampu meningkatkan curah hujan hingga 30–50 persen sesuai target yang telah ditetapkan.
Dengan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca ini, pemerintah bersama para pemangku kepentingan berharap ketersediaan air Danau Toba tetap terjaga selama musim kemarau.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi adaptasi menghadapi potensi kekeringan dan menjaga stabilitas pasokan air untuk kebutuhan masyarakat, energi, serta lingkungan sekitar. (RGS)

















