Batu Bara – Ferari.co | Viral pemberitaan dan keluhan masyarakat di media sosial terkait pelayanan RSUD OK Arya Zulkarnain akhirnya mendapat perhatian Wakil Bupati Batu Bara. Pada Rabu (28/10/2026), Wakil Bupati mengaku telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk mengecek ketersediaan obat, khususnya obat anestesi yang menjadi sorotan masyarakat.
Sidak tersebut menyusul keluhan pasien bernama Suhartono (58), warga Dusun VII, Desa Mangkai Lama, Kecamatan Lima Puluh. Sebelumnya, Suhartono dijadwalkan menjalani operasi kelenjar pada Senin (26/10/2026). Namun, pihak rumah sakit menunda operasi tersebut meski pasien mengaku telah berpuasa, menjalani pemeriksaan, dan mendapatkan infus.
Peristiwa ini memicu sorotan publik terhadap kualitas pelayanan kesehatan di RSUD OK Arya Zulkarnain. Masyarakat pun mempertanyakan kesiapan rumah sakit dalam memenuhi kebutuhan medis pasien.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Wakil Bupati Batu Bara menyampaikan bahwa dirinya telah mendengar keluhan masyarakat mengenai ketersediaan obat anestesi di RSUD OK Arya Zulkarnain.
“Beberapa hari yang lalu, saya mendengar adanya keluhan terhadap pelayanan RSUD OK Arya tentang ketersediaan kesehatan obat anestesi,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa dirinya kemudian melakukan pengecekan langsung terhadap ketersediaan obat di rumah sakit tersebut.
Wakil Bupati juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang belum mendapatkan pelayanan kesehatan secara maksimal. Menurutnya, pemerintah daerah perlu membenahi tata kelola pengadaan dan persediaan obat agar kebutuhan pasien dapat terpenuhi.
“Ke depan, tata kelola pengadaan dan stok obat harus dibenahi agar kebutuhan pasien terpenuhi dan kejadian serupa tidak terulang,” tulisnya.
Ia menegaskan bahwa keselamatan pasien harus menjadi prioritas. Karena itu, pelayanan kesehatan yang aman, cepat, dan berkualitas harus menjadi komitmen bersama.
Sidak Wakil Bupati tersebut menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Batu Bara untuk mengevaluasi pelayanan RSUD OK Arya Zulkarnain secara menyeluruh.
Evaluasi tidak cukup hanya dengan memeriksa ketersediaan obat anestesi. Pemerintah daerah juga perlu memastikan sistem pengadaan, pengelolaan stok obat, kesiapan tenaga medis, serta prosedur pelayanan pasien berjalan dengan baik.
Selain itu, rumah sakit perlu memiliki sistem pengawasan persediaan obat yang memadai. Dengan demikian, potensi kekosongan obat dapat diketahui lebih awal dan tidak mengganggu jadwal tindakan medis yang telah direncanakan.
Kasus penundaan operasi Suhartono juga perlu menjadi bahan evaluasi agar pasien memperoleh informasi yang jelas mengenai alasan penundaan tindakan medis dan rencana penjadwalan ulang.
Masyarakat tentu berharap kejadian serupa tidak terulang. Sebab, pelayanan rumah sakit bukan hanya menyangkut ketersediaan fasilitas, tetapi juga kepastian penanganan, komunikasi kepada pasien, dan keselamatan selama menjalani perawatan.
Di sisi lain, hingga berita ini diterbitkan, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur RSUD OK Arya Zulkarnain dr. Yufly Yanza, M.K.M. belum memberikan keterangan terkait pemberitaan Ferari.co sebelumnya mengenai penundaan operasi Suhartono.
Keterangan dari pihak rumah sakit masih diperlukan untuk menjelaskan penyebab penundaan operasi, kondisi ketersediaan obat anestesi saat kejadian, serta langkah perbaikan yang akan dilakukan oleh manajemen rumah sakit.
Ferari.co tetap membuka ruang klarifikasi bagi pihak RSUD OK Arya Zulkarnain agar persoalan ini dapat diketahui secara berimbang.
Pemerintah Kabupaten Batu Bara diharapkan tidak berhenti pada sidak, tetapi menindaklanjutinya dengan evaluasi dan perbaikan nyata. Dengan begitu, pelayanan RSUD OK Arya Zulkarnain dapat berjalan lebih optimal dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan daerah dapat terjaga. (RGS)


















