Batu Bara – Ferari.co | Forum Aktivis Generasi Z (FORZA) angkat bicara terkait derasnya kritik publik terhadap kinerja Bupati Batu Bara Baharuddin Siagian dan Wakil Bupati Syafrizal. Organisasi tersebut mengingatkan masyarakat agar tidak ragu dan tidak takut untuk terus menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah daerah.
FORZA menilai kritik yang berkembang di tengah masyarakat merupakan bagian penting dari kontrol sosial dalam sistem demokrasi.
Menurutnya, suara masyarakat harus terus dijaga, terlebih ketika sejumlah janji politik yang pernah disampaikan saat masa kampanye kembali menjadi sorotan publik.
“Masyarakat tidak perlu khawatir dan takut untuk terus mengkritik kebijakan serta kinerja bupati dan wakil bupati apabila dinilai belum memuaskan. Terus bersuara, dan jangan ada yang harus ditakuti ketika janji-janji politik tersebut belum terpenuhi,” tegas perwakilan FORZA, Minggu (5/4/2026).
Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh perbincangan mengenai sejumlah janji politik yang dinilai belum menunjukkan kejelasan arah. Warganet menyoroti isu kesejahteraan guru mengaji, penggali kubur, hingga perhatian terhadap sektor keagamaan yang sebelumnya menjadi bagian dari narasi kampanye.
Bagi sebagian masyarakat, persoalan ini tidak lagi hanya menyangkut program kerja, tetapi telah menyentuh persoalan kepercayaan publik yang mulai terkikis. Kondisi tersebut memicu pertanyaan besar mengenai prioritas pemerintahan saat ini.
Selain itu, masyarakat juga mendesak agar pemimpin daerah tidak hanya hadir dalam agenda seremonial. Warga berharap Bupati Baharuddin Siagian dan Wakil Bupati Syafrizal lebih sering turun langsung ke desa-desa untuk melihat kondisi masyarakat secara nyata.
Menurut warga, kehadiran pemimpin di lapangan seharusnya tidak sekadar formalitas dengan pengawalan, tetapi membawa kepedulian dan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Keluhan warga di Kecamatan Lima Puluh sebagai ibu kota kabupaten juga semakin menguat. Hingga saat ini, masyarakat mengaku belum melihat perubahan signifikan, terutama pada sektor infrastruktur jalan lingkungan dan penataan kawasan kota.
Tak hanya itu, belum hadirnya simbol identitas daerah seperti gapura pintu masuk yang representatif turut menjadi perhatian.
Di sisi lain, persoalan ekonomi, beban pajak yang dinilai masih memberatkan, serta kemacetan di pusat kota juga disebut belum terselesaikan.
Situasi tersebut membuat harapan masyarakat terhadap perubahan perlahan berubah menjadi pertanyaan besar: di mana prioritas pemerintah Kabupaten Batu Bara?
FORZA menegaskan bahwa kritik publik harus dipandang sebagai masukan yang konstruktif, bukan sebagai ancaman. Sebaliknya, kritik merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap arah pembangunan daerah.
Dengan demikian, FORZA kembali mengajak seluruh masyarakat Batu Bara untuk tetap aktif menyampaikan aspirasi demi memastikan janji politik yang pernah disampaikan benar-benar diwujudkan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak Pemerintah Kabupaten Batu Bara maupun pihak terkait. FERARI.CO tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi untuk memastikan pemberitaan yang berimbang serta sesuai prinsip jurnalistik.(RGS)
















