Batu Bara – Ferari.co | Pelaksanaan MTQ ke-XIX Tingkat Kabupaten Batu Bara Tahun 2026 menjadi sorotan publik. Pembukaan MTQ yang dipimpin wakil bupati disebut berlangsung sepi, sedangkan penutupan mendadak ramai setelah beredarnya pesan WhatsApp yang menghimbau ASN dan tenaga pendidik hadir disertai absensi.
Kondisi tersebut dinilai memprihatinkan. Pasalnya, kegiatan keagamaan semestinya hidup karena kesadaran masyarakat, bukan karena tekanan administrasi maupun kewajiban absensi.
Pembukaan MTQ sebelumnya dipimpin oleh Wakil Bupati Batu Bara. Namun suasana di lokasi disebut tidak seramai yang diharapkan. Sementara pada malam penutupan yang dipimpin langsung Bupati Batu Bara, keramaian terlihat meningkat drastis.
Belakangan, beredar pesan WhatsApp yang berisi himbauan dari lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Batu Bara yang meminta kepala sekolah, guru ASN, PPPK, hingga PPPK Paruh Waktu menghadiri penutupan MTQ di Lapangan Sepak Bola Kelurahan Indrasakti, Kecamatan Air Putih, Sabtu (16/5/2026) malam.
Dalam pesan tersebut, peserta diminta mengupload laporan kehadiran melalui tautan Google Form yang telah disediakan. Selain itu, beredar pula pesan lanjutan yang meminta peserta mengupload foto kehadiran mulai pukul 19.30 WIB dan mengumpulkan hard copy absensi melalui koordinator sekolah.

“Daftar hadir dan foto upload ke link ya bapak/ibu,” bunyi salah satu pesan yang tersebar.
Pesan lainnya bahkan menyebut adanya tekanan karena Bupati Batu Bara disebut marah melihat kondisi pembukaan MTQ yang sepi.
“Soalnya tadi siska tanya kk ikai disana pakai absensi dan ada tekanan pak bupati agak marah sebab hari pembukaan sepi,” tulis pesan yang beredar di kalangan tenaga pendidik.
Situasi ini kemudian memunculkan kritik dari masyarakat. Banyak pihak mempertanyakan apakah ramainya penutupan MTQ benar-benar lahir dari antusiasme masyarakat atau hanya karena adanya himbauan wajib hadir disertai absensi.
Jika sebuah kegiatan pemerintah hanya ramai setelah adanya instruksi kehadiran, maka hal itu dinilai menjadi evaluasi penting bagi Pemkab Batu Bara. Sebab, partisipasi yang tumbuh karena tekanan berbeda dengan kehadiran yang lahir dari kesadaran dan rasa memiliki.
selain itu, publik juga menyoroti perbedaan suasana antara pembukaan yang dipimpin wakil bupati dan penutupan saat bupati hadir langsung. Perbedaan tersebut memunculkan dugaan adanya mobilisasi birokrasi demi menjaga citra acara agar terlihat sukses.
MTQ sejatinya merupakan kegiatan religius yang menjunjung nilai keikhlasan dan syiar Islam. Karena itu, banyak pihak berharap kegiatan keagamaan tidak berubah menjadi sekadar seremonial yang bergantung pada mobilisasi ASN dan absensi kehadiran.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Batu Bara maupun Dinas Pendidikan terkait surat himbauan dan mekanisme absensi tersebut. (RGS)


















